Rilis Rakor Mitigasi dan Adaptasi Dampak Kekeringan Auditorium Gedung F Kementan

By Ahmad Rajendra


Nusakini.com--Jakarta--Informasi peringatan dini BMKG menyatakan tahun ini berpotensi kemarau ekstrem sampai dengan bulan September, dan puncaknya terjadi pada bulan Agustus. Wilayah yang terancam terdampak kekeringan terutama di Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.

Menurut petugas Pengamat OPT di lapangan, secara umum penyebab kekeringan selain karena curah hujan yang sedikit juga penggunaan varietas yang didominasi varietas tidak toleran kekeringan seperti Ciherang, IR 64 dan Mekongga. Untuk varietas seperti Situbagendit relatif aman dari dampak kekeringan. Minimnya penampung air di sekitar lahan pertanaman juga menyebabkan air tidak tertampung optimal pada saat curah hujan tinggi sehingga tidak dapat dimanfaatkan saat musim kemarau.

Merespon hal tersebut, Kementerian Pertanian pada hari Senin 8 Juli 2019 melaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Pertanian Kabupaten, Dinas PU Kabupaten serta Kodim di wilayah terdampak kekeringan guna melakukan mitigasi dan adaptasi kekeringan. Kegiatan ini bertujuan menentukan Rencana aksi setiap kabupaten/kecamatan sehingga semua unsur terkait bisa langsung action operasional di lapangan untuk penanganan pertanaman terdampak kekeringan baik yang sudah puso dan yang belum puso maupun pengamanan standing crop. 

Untuk membantu wilayah yang puso perlu menginventarisir keikutsertaan asuransi petani, apabila belum ada Kementan akan menyiapkan bantuan benih. Begitu pula untuk wilayah yang terancam kekeringan dan belum puso, perlu pengakitfan pompa, mengoptimalkan sumber air terdekat (sungai, danau, embung), normalisasi saluran, serta penyediaan sumur pantek.

Musim kemarau seperti ini sebenarnya bisa juga menjadi kesempatan kita mengembangkan lahan rawa. Optimalisasi lahan rawa akan lebih bagus di musim seperti ini. Oleh karena itu kami juga mengundang wilayah rawa agar mengupayakan penambahan Luas Tambah Tanam melalui optimalisasi Potensi Lahan Rawa. rencana aksi bisa dengan bantuan benih padi, jagung, kedelai, tumpangsari, optimalisasi lahan, serta bantuan alsintan.

Untuk di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, diharapkan Perum Jasa Tirta (PJT-I dan PJT-II ) dengan sumber air yang ada dapat mengamankan standing crop pertanaman, sekaligus meningkatkan Luas Tanam/LTT. Untuk wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, diharapkan dapat meningkatkan LTT melalui optimalisasi penanaman pada lahan kering serta rawa yang masih ada airnya.(R/Rajendra)